Posted by: katakataono | July 12, 2009

The remarkable Senja dan Fajar Utama

keretaSudah cukup lama saya tidak menggunakan armada kereta api di negara sendiri. Belakangan, pesawat udara adalah moda transportasi utama yang saya pergunakan untuk memindahkan posisi ke kota dan propinsi lain ke luar Jakarta. Setelah selesai Pemilu Pilpres 8 Juli kemarin, saya meninggalkan Jakarta menuju Solo dan Jogjakarta untuk beristirahat sejenak *lagi?* dari rutinitas di kantor. Sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan untuk menikmati kedua kota tersebut walau dalam waktu yang terbatas.

Tapi bukan soal kedua kota itu yang ingin saya ceritakan disini, melainkan pilihan kelas kereta api yang dipesankan oleh sahabat saya untuk membawa saya ke Solo dan kembali ke Jakarta dari Jogjakarta. Biasanya, saya menggunakan kereta ke Surabaya menggunakan kelas Argo yang nyaman, dilengkapi dengan air conditioner dan kursi yang bisa dirubah posisinya agar nyaman untuk tidur. Saya ingat, pertama kali menggunakan kereta kelas bisnis pada saat LP MPS di Jogjakarta tahun 2001 yang lalu.

Ceritanya tentu berbeda ketika saya menggunakannya lagi 8 tahun kemudian. Ternyata pengalaman menggunakan Senja dan Fajar Utama memberikan saya kejutan yang tidak akan pernah saya lupakan. Lupakanlah banyaknya penjual yang keluar masuk disetiap stasiun yang saya singgahi untuk menawarkan beragam makanan dan oleh-oleh. Suasana yang mirip pasar dan suara tawar menawar penjual dan pembeli saya dengar sekitar jam 1 dini hari.

Ditambah lagi, saya juga mengabaikan tawaran untuk menyewa selimut karena saya pikir kondisi kereta tidak akan dingin dimalam hari. Ternyata? Premis yang saya pikirkan salah, mengingat angin malam yang kencang menerpa tubuh saya malam hari itu. Satu keputusan yang sukses membuat saya sulit tidur sepanjang malam karena kedinginan. Tentu saja ditambah dengan teriakan ramai para penjual yang masuk ke gerbong, plus posisi tempat duduk yang permanen membuat badan serba salah untuk duduk padahal mata ingin banget tidur.

Yang paling bikin saya terkejut-kejut adalah betapa kreatifnya orang yang beruaha mencari nafkah didalam kereta. Penjual makanan dari penganan sampai nasi lengkap dengan ayam dan sayuran tidaklah aneh buat saya. Jualan souvenir, stationary, dan peminta sumbangan juga bukan hal yang baru. Pembersih gerbong dengan modal sapu yang mencoba membersihkan lorong-lorong dan meminta sejumlah uang juga tidaklah terlalu menarik.

Hal yang paling menarik adalah pada saat kembali ke Jakarta dari Jogjakarta dengan kereta Fajar Utama ada 1 orang yang ke setiap bangku dan menyemprotkan pengharum ruangan berbentuk spray, lalu meminta uang atas jasanya itu. Satu cara baru yang sukses bikin saya geleng-geleng kepala
dan senyum-senyum sambil memandangi jendela dengan suasana pulau Jawa yang sangat indah terbentang sepanjang perjalanan kemarin.

Kira-kira beberapa tahun lagi ada inovasi apa baru ya dari para penjual didalam kereta?

Tapi jangan sedih, bahkan di kereta Belanda yang demikian bagus dan teratur saya sempat bertemu seseorang yang meminta uang pada penumpangnya.


Responses

  1. Whuihhihihihihi, serius lo??
    Hebat yaa..itulah, slalu ada jalan..

  2. Jadi teringat, ketika gw pulang ke kampung halaman dengan kereta api, setelah kerap kali numpang ‘montor mabur’. Entah mungkin karena sendirian, justru yang terjadi adalah rasa penat, karena stuck in the box untuk waktu yang lama hahaha.

    ga tau deh, harus sedih atau harus bergembira..

  3. 🙂

    Udah, klo temennya ngajak susah lagi, just say ‘no’


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: