Posted by: katakataono | January 21, 2009

“Masak Cuma Terima Kasih…”

Kata-kata itu terngiang-ngiang di telinga saya sore ini. Memang mungkin saja benar, bahwa pertolongan di Jakarta semua diukur dengan uang. Ketika nurani dipertanyakan, maka jawaban yang keluar dari mulut penolong adalah “Masak cuma terima kasih aja”.

Ceritanya bermula sekitar jam 4.00 pm ban mobil yang saya kendarai terkena ranjau paku di ujung persimpangan jalan Hang Tuah-Pakubuwono VI. Saat berbelok ke jalan Pakubuwono, saya merasakan ada yang tidak beres dengan jalannya kendaraan. Saya pinggirkan kendaraan ke sebelah kiri, dan benar saja, ketika saya keluar dari mobil, ternyata ban kiri depan saya kempes se kempes-kempesnya. Langsung saja saya kunci mobil, dan membuka bagasi untuk mengambil ban serep dan peralatan lainnya.

Hanya dalam waktu beberapa menit, muncul satu orang yang seolah menjadi pahlawan, dengan mengajak saya berbicara dan menawarkan bantuan untuk mengganti ban yang kempes ke ban serep yang sebetulnya juga sudah tipis. Awalnya saya sudah katakan padanya, saya bisa melakukan sendiri. Namun, orang ini tetap berusaha membantu saya, membuka kunci-kunci ban.

Setelah semuanya selesai, saya ucapkan terima kasih dan segera masuk mobil. Tiba-tiba dia mengikuti saya dan berkata, “Masak cuma terima kasih”. Tak ingin melanjutkan debat, saya terpaksa memberikan uang, yang awalnya masih ditolak dengan alasan “terlalu kecil”. Dalam perjalanan saya berpikir, sedemikian mahalnya kah nilai sebuah pertolongan saat ini di Jakarta? Apakah memang semakin banyak orang yang kehilangan hati nuraninya, dan memanfaatkan kemalangan orang lain untuk keuntungannya semata. Apakah aneh kalau orang memberikan pertolongan lalu kita ucapkan terima kasih? Apakah bentuk penghargaan sebuah pertolongan semuanya diukur dengan uang? Saya tidak habis pikir, karena bisa jadi tindakan menyebarkan ranjau paku di jalan bisa membahayakan nyawa orang lain.

Sesampainya di rumah saya segera mengecek ban yang tadi kempes, dan ternyata memang benar ada 2 buah paku bolong yang tertancap di sana. Karena menggunakan paku bolong, efeknya adalah tidak lain udara di ban bisa segera habis keluar. Kalau sudah begini, lagi-lagi saya sedih menjadi orang Indonesia.


Responses

  1. Nice post..but a little sad juga ya🙂
    Mungkin mesti lebih banyak orang orang yang kaya kita no…yang bae bae dan mau menolong tanpa pamrih😀 * memuji diri sendiri??*
    My past experience didsini malah kebalik loh, gue mau daftar volunteer work sussaaaaaah bener :p

    Oyah, wish list nya OKE sekallee..
    tolong ya kalo anda mau ke sulawesi dan bali mbok ya bilang2 ke saya…sapa tau gue dikasih rejekiiiiii🙂

    K

    • @ karima: heheh, bener ya ikutan???

  2. Ya ampun, Ono…2 entry terakhir loe serem2 amat sih? Jakarta…oh…Jakarta…
    Untungnya disini kejahatan belum separah Jakarta. Ya semoga aja lah disini nggak jd kyk Jakarta.
    Hati-hati ya, On…Semoga nggak kena kejadian yg aneh2 lagi deh…

    • @ Danang: yoih, sedih juga ngerasainnya…

  3. Beneeeeeeer🙂 well at least kasi taunya jauh2 deeh ..biar bisa Nooo🙂
    karime

  4. makanya ada reality show namanya : ‘minta tolong” de🙂

  5. wah..wah..itu tergolong kejahatan ya, udah ngempesin, minta uang lagi ya..ck..ck..

  6. Ironisnya kejahatan yg dilakukan seringkali bener2 murni utk ngisi perut bukan buat memenuhi pundi2 nafsu dan kemarukan…kalo bgini siapa yang harus diingatkan??


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: