Posted by: katakataono | January 9, 2009

Di suatu sore

Dalam perjalanan pulang di sebuah Metro Mini 640 dari kantor menuju stasiun kereta Dukuh Atas, naiklah empat orang berpenampilan rapih dan memiliki wajah yang serupa dari Gedung LIPI di kawasan Gatot Subroto. Seketika aura dalam bis dirasakan cenderung tidak menyenangkan, setelah ke empat bapak-bapak ini naik.Mereka segera ambil posisi, 2 orang berdiri masing-masing di dekat pintu dan dibelakang jejeran bangku sebelah kanan, 1 orang duduk di jejeran bangku sebelah kiri paling belakang, dan yang satu lagi berdiri di tiang dekat pintu keluar sebelah depan.

Posisi saya? ada di bangku panjang paling belakang. Segeralah saya sadar kalau mereka ini bukan orang sembarangan. Gerak-gerik tindakan dan mata mereka membuat saya sedikit takut untuk menjaga lebih ketat barang-barang yang ada di kantong celana saya. Bayangkan saja, tentunya tidak pernah diantisipasi akan adanya mereka. Ipod ada di kantong kiri, handphone di kantong kanan, dompet di kantong belakang tanpa kancing, plus sebuah arloji melingkari tangan kiri saya. Sebuah kombinasi yang sangat tepat untuk membiarkan benda-benda tersebut dinikmati si gerembolan bisa makan enak malam ini.

Percobaan pertama terjadi di kawasan Bendungan Hilir, saat beberapa orang akan turun di kawasan itu. Mengingat yang turun agak banyak, mereka bergerak dengan modus 2 orang mencoba masuk ke dalam, di saat orang yang ada di tengah mencoba menuju pintu keluar. Ada seorang Bapak yang saya perhatikan, tangannya dipegang dengan dalih ingin berpura-pura pindah tempat duduk ke dalam. Tidak saya perhatikan, apakah mereka berhasil mengambil HP atau Dompet dari bapak tersebut. Alih-alih mencoba berempati dengan sang Bapak, salah satu anggota komplotan rupanya bermata jeli dan sadar kalau aksinya diperhatikan. Segera dia duduk di samping saya, sekedar untuk menutupi aksi yang dilakukan teman-temannya. Saya juga tidak tahu, apakah dia membawa senjata tajam di kantongnya, kalau saja saya berteriak.

Perjalanan dilanjutkan ke arah Tanah Abang, and si gerombolan masih duduk tenang di dalam Metro Mini. 2 orang yang berusaha pindah ke tengah tadi, setelah bis berjalan, kembali duduk di bagian belakang bis. Saya yang masih tercekam, berusaha perlahan-lahan memindahkan dompet dan telepon seluler yang ada di kantong ke dalam bagian yang paling aman di dalam tas ransel saya. Termasuk memindahkan resleting ke bagian atas agar mudah diawasi oleh mata.

Target berikutnya mana lagi kalau bukan Stasiun Dukuh Atas, tempat saya turun. Betul saja, mereka kembali beraksi, dan saya memilih untuk duduk diam dulu, dan tidak terburu-buru turun, sampai semua orang benar-benar turun. Dan Alhamdulillah, berhasil saya menyelamatkan benda-benda yang saya punya sore hari itu. Tanpa saya sadari, badan rasanya lemas luar biasa saat berjalan menuju ke stasiun. Inikah rasanya kalau kita melihat sebuah kejahatan terjadi? Adrenalin berperan lebih besar? Wallahualam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: