Posted by: katakataono | January 20, 2008

Senyum itu

Malam ini ada undangan seorang kawan yang memenuhi janjianya untuk mentraktir kebahagiannya dalam memasuki usia yang hampir kepala 3. Sebenarnya janji saya belum terpenuhi untuk memberikan kepadanya sebuah ikat pinggang, karena saya dan pasangan patungan untuk memberikan kado sama-sama belum punya kesempatan untuk menghadiahkan benda itu kepadanya. Ndilalah, ternyata tawaran traktir datang lebih dahulu, meskipun yang bersangkutan berulang tahun di akhir bulan November lalu.

Singkat cerita perbincangan dua sahabat yang sudah lama tidak berjumpa empat mata kembali terjadi. Tapi bukan itu esensi dari cerita saya hari ini. Makan malam selesai sekitar jam 9 malam, di saat yang bersangkutan sudah punya janji untuk menjemput seorang wanita yang menurutnya menarik di kawasan kuningan. Saya pun bergegas kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang ke arah BSD.

Di pos penjagaan keluar, dimana saya harus memberikan biaya pengganti menyewa lahan parkir di pusat perbelanjaan itu. Ada seorang anak kecil berdiri didekat loket pembayaran, sambil memegang beberapa bungkus kerupuk untuk di jual. Entah kenapa, hati ini tergerak untuk memberikan beberapa rejeki lebih dengan niat mudah-mudahan dapat dimanfaatkannya dengan baik. Setelah saya memajukan mobil meninggalkan loket dan menuju jalan besar, dari arah kanan, saya melihat seorang pedagang bersepeda menuju ke arah yang sama dengan mobil.

Betapa terkejutnya, ketika sang pedagang, tersenyum dengan tulusnya, sambil memberikan mobil saya jalan untuk mendahuluinya.

Senyum  itu terlihat sangat luar biasa,  sehingga  efeknya melekat dikepala saya, sehingga  radiasi yang dikeluarkan dari sang pedagang terus terbawa hingga malam ini saya menuliskan pikiran di kepala saya ini. Saya jadi malu karena kurang bersyukur atas segala nikmat yang saya terima hingga detik ini.

Senyum sang pedagang mengajarkan kepada saya, di tengah suasana malam di sudut kota Jakarta, masih ada orang-orang yang menebarkan kedamaian dari senyum yang disunggingkan dari mulutnya.

Senyum sang pedagang mengajarkan kepada saya, senyum menghangatkan hati orang-orang yang menerimanya.

Senyum sang pedagang mengajarkan kepada saya, Jakarta memerlukan ketulusan untuk bisa menyadarkan kekerasan hati orang Jakarta.

Mari, menyebarkan senyum kepada orang lain🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: