Posted by: katakataono | December 18, 2007

Nasib Pengendara Mobil

Nyetir mobil di Jakarta bukan hal yang mudah. Butuh kesabaran extra luar biasa untuk bisa menaklukkan jalanan ibu kota. Sudah beberapa kali rasanya saya menulis bagaimana sulitnya berkendara di Jakarta. Salahkan pada sistem transportasi modern yang baru belajar diterapkan di ibukota negara dengan penduduk lebih dari sepuluh juta manusia, sehingga banyak orang lebih memilih kendaraan pribadi baik mobil maupun motor.

Buat saya, orang Jakarta perlu diajarkan sopan santun berlalu lintas. Bukan bermaksud mendiskreditkan pengguna kendaraan bermotor tertentu, tapi seringkali pengguna motor merugikan pengguna mobil dalam beberapa hal. Kalau urusan senggol menyenggol, sudah pasti pengendara mobil lah yang dipersalahkan. Tapi urusan taat berlalu lintas, rasanya cukup fair kalau saya bilang pengendara motor relatif lebih cuek untuk tunduk dan patuh.

Sore tadi saya bersama sahabat bermaksud makan malam dikawasan Bendungan Hilir. Diantara banyak pilihan makanan dikawasan itu, kita bertiga sudah sepakat untuk mencari nasi uduk pecel ayam/lele yang enak. Setelah menimbang antara Blok M dan Benhil, akhirnya pilihan jatuh pada nomer 2. Semuanya berjalan lancar hingga kami memasuki kawasan itu. Karena tempat makanan berada di kanan jalan, dan mobil masuk dari arah jalan Jend. Sudirman, kami harus berbalik arah untuk bisa parkir tepat di tempat tenda makan yang kami tuju.

Saya mencari tempat yang relatif aman untuk memutar, karenanya setelah berjalan kurang lebih 50 meter dari tenda yang dimaksud, saya bermaksud untuk putar balik kendaraan. Lampu sen sudah saya nyalakan, dan sebuah kijang dan beberapa motor dari arah yang berlawanan sudah menghentikan kendaraannya. Setelah pandangan di ruang kemudi saya yakinkan bahwa sudah berhenti, saya tancap gas mobil, untuk memutar. Sepersekian detik saya tolehkan pandangan ke arah yang berlawanan dengan asumsi kendaraan sudah berhenti semua agar saya bisa mengira-ngira haluan putar dan kondisi jalan.

Entah dari mana datangnya tiba-tiba sebuah motor berpenumpang 3 orang satu keluarga sudah ada didepan kap mobil saya dalam kecepatan yang tinggi, sehingga tertabrak dan jatuh dari motor.

Tidak berapa lama, mulailah orang-orang berkumpul untuk kemudian mencegah saya untuk melarikan diri. Dalam hati saya berpikir, tidak ada pikiran sedikitpun untuk lari, biarlah saya menepikan kendaraan saya dulu agar tidak meghalangi jalan, karena posisi mobil masih menutupi jalan. Setelah berhasil menepikan kendaraan, ternyata penumpang wanita yang duduk dibelakang kakinya terluka sobek yang tidak terlalu parah. Mereka semua terjatuh bersama-sama motornya, tidak ada yang terpelanting, sehingga posisi badan masih melekat pada dudukan motor. Ternyata sang motor menyalip dari kiri mobil kijang yang sudah berhenti tersebut dalam kecepatan yang cukup tinggi. Ditambah lagi, ketiga pengendara tersebut tidak mengenakan helm sama sekali.

Setelah melihat kondisi korban, kami segera membawa ke-3 orang tersebut ke RS Angkatan Laut Mintoharjo, untuk mengurus seluruh biaya pengobatan termasuk menebus obat yang diberikan oleh dokter. Sang pengendara memang tidak terlalu banyak berbicara, dan hanya diam ketika berurusan dengan kami.

HANYA….

dia membawa beberapa orang yang tidak melihat secara langsung kejadian ketika kecelakaan terjadi, namun seolah-olah paling tahu apa yang harus kami lakukan. Berulang kali minta menahan KTP, marah-marah, bahkan menuduh kami mau lari dari tanggung jawab. Bahkan, entah karena tingkat pengetahuan dan pendidikan mereka yang tidak terlalu tinggi, mereka takut sang korban akan gegar otak, pusing-pusing, bahkan perlu cuci darah. Adakah pengaruh luka di kaki, dengan perlunya cuci darah? Sambil tak lupa menambahkan bahwa dia tahu penanganan luka karena bekerja di Palang Merah Indonesia, sambil berkata siapa tahu perlu transfusi darah?

Kami bersikeras bahwa segala hal menunggu hasil diagnosa dokter jaga di UGD. Jangan membuat analisa yang mendahului dokter, seperti pada umumnya masyarakat Indonesia yang rasanya pandai menyatakan suatu gejala yang belum jelas sebagai bagian dari penyakit tertentu. Dokter telah menjelaskan kalau sang ibu muda ini (kelahiran 1982), tersobek bagian pangkal kakinya, dan perlu dijahit dengan 3 jahitan. Dia dengan tegas menyatakan kalau tidak ada luka dalam, maupun patah tulang. Butuh waktu 3-7 hari untuk lukanya mengering dan mencabut jahitan, untuk itu sang ibu perlu kembali ke dokter dalam 3 hari untuk cek kondisinya.

Disepakati kalau kami masih bersedia menanggung biaya pengobatan hari ke-3 dan ke-7 pada saat mencabut jahitan. Dan kami sudah memastikan kalau tidak ada efek samping dari luka di kaki tersebut. Urusan akhirnya selesai setelah kami menebus obat yang diberikan oleh dokter. Kami berjanji untuk bertemu 3 hari kemudian, untuk memeriksakan kondisi sang ibu muda. Kami juga memberikan jaminan kalau biaya pengobatan hingga hari ke-7 akan jadi beban tanggung jawab kami.

Kalau sudah begini, saya rindu berkendara di Birmingham yang teratur. Bahkan, tidak perlu mengendarai mobil sendiri karena public transport yang luar biasa nyaman.


Responses

  1. Sabar ya. Musibah bisa datang kapan saja. Semoga tidak sampai terulang lagi. Saya sendiri suka heran dengan banyaknya orang yang mau mencari untung dari kejadian yang sebenarnya kesalahan mereka sendiri.
    Rindu Birmingham? Bagaimana dengan tempat yang bebas copet hp dan bebas motor salip kanan kiri dan pemerasan? Rasanya tempat yang terakhir itu lebih ideal😉
    Sabar ya…
    doel

  2. meski begitu… kangen pulang ke jkt juga kan? hehehe🙂

  3. wah, ono. memang disini begitu.. semoga kejadian ini sampai disini aja ya no.
    next time don’t show too much remorse- they sometimes take too much of it for granted.
    drive safe!

  4. bener mbak mia, yang kayak gitu sering terjadi di jakarta, in fact, yang kayak begini cuman bisa terjadi di jakarta, hihi.
    speeding di jakarta itu ngangeni loh🙂

    salam kenal!

  5. Ono….aku 2 hari di Jakarta stressss berat. Kemana-mana jauh, trus macet mulu. Untung nggak lama di sana. Bisa kurus aku nanti…

  6. aihh ono, dah balik lo?? pa kabar?? gak heran no kalo lo stress berat dijalan raya, jangankan elo yg abis dari Birmingham yang tenang, teratur dan nyaman, gue aja no, yg di Jakarta mulu dan terbilang tabah menghadapi cobaan jalan raya, akhir2 ini meragukan kembali kesabaran gue. Mesti banyak2 istigfar, hehehe😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: