Posted by: katakataono | December 17, 2007

Surat Penuh Kenangan…

Saya mengetahui kepergian Bapak Fuad Hasan ketika suatu pagi membaca koran dan disebuah sudut tertulis kenangan penulis terhadap beliau. Barulah saya tahu kalau ternyata beliau telah tiada. Bertemu langsung dengan sang ahli filsafat tentu saja belum pernah terjadi dalam hidup saya. Namun yang menarik, ternyata banyak orang yang punya kenangan manis terhadap beliau, termasuk kawan saya yang satu ini.

Mungkin tulisan saya ini tidak akan pernah ada, kalau saja sore tadi tanpa sengaja tidak menemukan sebuah benda penting ini. Pada saat membuka-buka arsip pribadi, saya menemukan sebuah amplop lawas berwarna kecoklatan. Pada bagian alamat, tertulis nama saya dan orang tua, dan beralamatkan rumah yang dulu pernah ditempati saat masih duduk di bangku sekolah dasar.

Didalam amplop ada sebuah kartu berwarna coklat tua, dengan lambang burung Garuda dan tertulis, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kartu ini adalah kartu kosong, yang biasanya berfungsi sebagai tanda ucapan untuk pihak-pihak yang dikirimkannya.Di kartu tersebut beliau menulis:

Ariono yang baik,

Terimakasih atas ucapan “Selamat Idul Fitri” yang kau kirimkan kepada saya. Semoga Lebaran tahun ini banyak membawa keriangan bagimu sekeluarga.

Rajinlah belajar agar kemudian kau jadi pribadi yang tegar dan kuat.

Salam hangat,

Fuad Hassan
17.05.1990

Untuk seorang saya yang masih sekolah dasar dikala itu, surat itu sangat berarti. Berulang kali saya baca surat tersebut, dan tidak lupa membawanya ke sekolah untuk dipamerkan kepada teman-teman. Bayangkan, mendapat surat langsung dari Bapak Menteri! Apalagi, beliau menuliskannya dengan tulisan tangan, sehingga memperkuat makna dari surat itu sendiri. Beliau termasuk salah satu dari tiga menteri yang saya kirimkan ucapan selamat lebaran kala itu, dan hanya Pak Fuad lah yang membalas ucapan saya tersebut. Sebetulnya saya pernah berniat untuk menunjukkan surat tersebut kepada beliau, kalau kebetulan saya bertemu langsung dengannya.

Saya tersenyum mengenang masa itu, dan kembali menyimpan surat itu baik-baik, sebagai sebuah bukti sejarah kebesaran hati seorang Fuad Hassan.

Selamat Jalan Bapak…


Responses

  1. Jangankan elo No, yang dikirimin ama pak Fuad Hasan, gue aja terharu banget bacanya…🙂 Simpen baik2 No, jgn ampe ilang, buat kenang2an yg bisa lo tunjukin ke anak cucu lo (nasehat mbah rey nih, hehehe)

  2. Gw jg jadi terharu,pikiran langsung melayang,salah satu bapak yang kalo lagi berdiri dideketnya bikin bangga,bis bertegur sapa…dia pernah mengingat gw lho setelah beberapa kali ketemu🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: