Posted by: katakataono | November 10, 2007

Kejutan Jakarta

Ketika saya kecil dulu, saya selalu ingat bagaimana ayah begitu membangga-banggakan Indonesia. Konsepsi Indonesia dalam benak beliau adalah sebuah Negara yang besar, dan punya kualitas yang sejajar dengan Negara-negara lain, khususnya di Asia Tenggara. Beliau bahkan membiayai saya untuk berkunjung ke Malaysia dan Singapura untuk membuka mata saya bahwa Indonesia tidaklah seburuk yang saya pikirkan ketika kecil. Maklum, jiwa protes memang sudah jadi bagian dari hidup saya sejak kecil. Ketika itu saya ingat, bagaimana saya yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, untuk pertama kalinya bisa menikmati Negara kecil yang terletak di ujung semenanjung Malaya itu dan mengagumi bagaimana system transportasi mereka yang begitu teratur dan terintegrasi satu sama lain.

Saya begitu menikmati perjalanan dari kawasan Tampines tempat dimana kami menginap menuju city centre dengan konsep kereta api terpadu yang bernama MRT. Bahkan saking mudah dan amannya moda transportasi itu, saya bisa menjadi acuan untuk ibu dan adik saya yang memang kebetulan punya keterbatasan dalam bahasa Inggris. Saya tentu saja bermimpi dan percaya bahwa dalam waktu dekat, Jakarta, ibu kota yang saya cintai ketika itu akan punya moda transportasi yang punya kualitas yang sama.

Ternyata, mimpi 15 tahun yang lalu itu, masih akan menjadi mimpi untuk mungkin 5-10 tahun mendatang. Dulu, Saya selalu membayangkan, ketika kita semua menginjak tahun 2000, abad 21, Jakarta adalah sebuah kota yang modern, nyaman dan aman untuk dihuni. Siapa sangka kalau ternyata hingga kini, kota yang saya cintai ini masih belajar untuk memberikan moda transportasi yang nyaman untuk penghuninya.

Saya berangkat meninggalkan kota ini tahun lalu degan harapan yang besar, agar ada perubahan kearah yang lebih baik. Bahkan dalam setiap kesempatan, saya sering mengungkapkan kepada kawan-kawan saya di Birmingham, bahwa hidup di Jakarta itu demikian dinamisnya, sehingga kau tidak akan pernah tahu apa yang bisa terjadi di kota ini setiap harinya. Bisa jadi suatu sore kau terkejut dengan kondisi jalan yang macet, namun esoknya kita terheran-heran karena jalan yang begitu lancar. Atau mungkin setiap pagi kita melalui jalan yang sama, tapi bisa sampai di tujuan dalam waktu yang berbeda-beda. Buat saya, hidup di kota yang sangat teratur seperti Singapura atau Kuala Lumpur, bisa membuat saya bosan karena segalanya serba bisa diprediksi. Tapi di Jakarta hidup selalu penuh dengan kejutan.

Hanya saja, saya lebih terkejut melihat Jakarta seperti sekarang ini. Kejutan yang saya rasakan sekarang, bukan lagi kejutan yang menyenangkan. Tengoklah pengalaman orang yang tertangkap di kamera televisi yang mengungkapkan kekesalan dan kemarahan akan kondisi jalan. Tidak ada lagi wajah-wajah tersenyum di pagi hari meninggalkan rumah menuju tempat beraktivitas. Kini, pagi dan sore seperti momok yang harus dihadapi dengan strategi seperti akan menghadapi sekompi musuh. Perjalanan dari rumah ke pusat kota selama 2 hingga 3 jam, adalah hal yang normal kalau kita hidup sebagai commuter.

Inilah harga mahal yang memang harus dibayar, oleh sebuah kota yang terlambat membenahi system transportasinya. Karena saat ini Jakarta masih dalam tahap belajar untuk membenahinya. Mudah-mudahan, sang murid punya tingkat kecerdasan yang tinggi, sehingga bisa masuk kelas akselerasi, dan memperoleh nilai raport yang memuaskan. Bagaimana kalau bebal dan gak naik kelas?


Responses

  1. Jakarta tampaknya masih senang dengan keunikannya menjadi sebuah kampung besar. Sebenarnya boleh berharap Jakarta bisa menjadi –setidaknya– kampung modern, tapi perlu ada perubahan sikap… Mungkinkah? Sayangnya, dalam kampung modern, orang mungkin masih dimaklumi untuk bersikap sangat toleran, termasuk menuntut orang lain untuk sabar😉
    Sing sabar ya di jalan…😀

  2. kalau boleh komen sih mas, masalahnya bukan di transportasinya lho. saya rasa masalahnya di density. singapore itu density-nya cuman enam ribuan orang per square kilometer. sedangkan jakarta mencapai lebih dari duabelas ribu orang per sqkm. kebayang kan? bayangkan kalo density-nya jakarta macam di singapore, nyetir jadi sangat nikmat, karena total jalan di jakarta lebih panjang dari singapura. pun jalan tol-nya.

    berapa density kota london? hanya empat ribuan orang saja saudara saudara. lebih nikmat bukan?

    salam kenal!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: