Posted by: katakataono | October 7, 2007

Karakter Sebuah Kota (Sebuah Catatan Perjalanan Bagian II)



Perjalanan saya ke Paris masih meninggalkan kenangan yang manis di kepala saya akan kota tersebut. Bayangan dari sudut-sudut kota Paris masih bisa saya ingat secara jelas dikepala saya hingga saat ini. Berjalan dibawah runtuhan daun-daun pepohonan dimusim gugur seolah menyambut perjalanan saya menyusuri setiap bagiannya, ditambah dengan cuaca cerah dan langit biru menjadi bagian yang melengkapi keindahan kota. Alunan suara saxophone, gitar ataupun accordeon di penjuru kota menjadi pengiring alunan denyut nadi Paris di akhir pekan itu. Atau limpahan cahaya matahari sore yang menyinari Paris dihari sabtu kala itu membuat Le Louvre menjadi berkilauan sehingga saya tak jemu-jemu memandangi kemegahan arsitekturnya. Penempatan objek, monumen dan karya senipun seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan kota, sehingga semuanya menyatu dalam denyut nadi kota. Buat saya, ini menjadi gambaran sempurna dari sebuah kota yang menyambut kedatangan saya.

Lagi-lagi saya berdiskusi tentang gambaran Paris di mata kawan baik saya. Menurutnya, Paris sebagai kota Internasional yang dikunjungi oleh jutaan wisatawan, maupun imigran yang berusaha mengambil jatah dari kue besar yang ada disana dan menyatu dengan kehidupan kota, tetap tidak menghilangkan ciri dan karakter kota ini. Kalau diamati, contoh saja bangunan-bangunan di Paris, hampir seluruhnya tipikal dan saya tidak menemukan satu bangunan yang tiba-tiba punya karakter nyeleneh, terpisah dan berbeda dengan gedung disekitarnya. Kota ini punya ciri khas dan karakter yang kalau ingin merasakannya, memang harus menikmatinya dari dekat. Dia menyuruh saya membandingkan antara Paris dan London, 2 megapolitan dunia. Menurutnya, London sudah terlalu internasional, hingga dia seolah sudah kehilangan jati diri aslinya sebagai sebuah kota. London yang dulu menurutnya, jauh berbeda dengan London yang sekarang.

“This is so French”

Berbicara mengenai sebuah kota, dari hasil perjalanan saya ke beberapa kota, tidak banyak yang bisa memiliki sebuah karakter yang kuat untuk bisa meninggalkan kesan di kepala saya. Ternyata karakter itu penting sebagai bagian dari kehidupan sebuah kota. Saya teringat dengan tulisan perjalanan saya ke Putera Jaya Malaysia beberapa waktu yang lalu. Bagus, Bersih, Spektakuler, sebutlah beberapa istilah yang bisa menggambarkan sebuah kemegahan. Tapi saya masih ingat jelas kalau Putra Jaya kehilangan sisi humanis dari yang seharusnya sebuah kota miliki. Kota yang bersahabat, mungkin itu istilah yang lebih tepat dipergunakan. Ketika saya datang dan mencoba merasakan denyut nadinya, saya seperti berada dalam sebuah padang pasir ditengah gurun. Hampa dan kosong, walaupun disana banyak bangunan-bangunan dengan tingkat kemegahan yang luar biasa.

Ketika itu saya membandingkan Putera Jaya dengan Bangkok. Mungkin dari kacamata orang awam, Bangkok bukan kota yang tepat untuk menggambarkan sebuah kemegahan dan kebersihan misalnya. Tata kotanya kurang lebih mirip dengan Jakarta, kemacetan, polusi udara, trotoar yang dipenuhi dengan pedagang kaki lima, sampah, dll. Tapi buat saya, Bangkok jauh lebih memiliki jiwa serta ramah kepada manusia yang datang mengunjunginya.

Kalau berkaca dari pengalaman di Indonesia, saya pikir Jogjakarta adalah kota yang menurut saya punya karakter paling kuat di Indonesia. Gambaran Jogjakarta adalah sebuah deksripsi sempurna bagaimana kota yang ramah, humanis, dinamis dan memiliki jiwa yang kuat. Disitu saya bisa merasakan bagaimana pengaruh sebuah culture sejalan dengan denyut nadi kota. Kalau kita berjalan menyusuri Jalan Malioboro, saya bisa merasakan dengan jelas, bagaimana bagunan di kiri dan kanan (tidak termasuk Malioboro Mall) menyatu dengan kendaraan dan manusia yang berlalu lalang disana. Tidak perlu bangunan yang megah dan cantik, kalau hanya sebagai kosmetik tapi dingin dalam meyambut tamunya? Bayangkan kalau kita bertemu dengan sosok wanita cantik tanpa make up tebal dan menor, tapi dengan senyum tulus dia menyambut, kita tentunya akan merasa nyaman berdampingan selalu dengannya.

Lantas bagaimana dengan Jakarta? Agak sulit bagi saya untuk menilai Jakarta saat ini, berhubung sudah hampir 1 tahun saya tidak menjejakkan kaki disana. Ada beberapa hal yang membuat Jakarta kehilangan karakternya. Salah satu contohnya adalah penempatan patung Sudirman. Contoh yang saya lihat, baik di Paris maupun Jogjakarta, penempatan sebuah objek disudut-sudut kota, seharusnya menjadi sebuah bagian yang menyatu dengan area disekitarnya. Sebuah karya seni, ataupun monumen seharusnya bukan sekedar menjadi pajangan dan pemanis dari sebuah kawasan. Saya setuju dengan sekuel Naga Bonar yang berusaha menurunkan tangan sang Jenderal, yang entah hormat kepada siapa. Berdiri diujung jalan yang ramai, dan semua yang lewat mungkin tak acuh dengan keberadaannya disana. Atau pembangunan jalur Busway, yang dicaci maki banyak penduduk, menunjukkan bagaimana sebuah kebijakan publik yang dibuat seperti terburu-buru tanpa berkomunikasi dengan warganya, sehingga dianggap merugikan banyak orang. Sebagai warga, kita seolah kehilangan akal untuk bisa menyuarakan opini terhadap penguasanya.

Belum lagi saya juga mendengar kalau pusat perbelanjaan bertebaran diseluruh penjuru kota, menambah kemacetan dan mengurangi lahan dari sektor informal yang semakin terpinggirkan. Walaupun sang penguasa selalu berkilah, ini untuk kepentingan rakyat. Atau misalnya lagi, saya suka geli kita ada sebuah kawasan perumahan, (termasuk kompleks dimana rumah saya berada) mencoba mengadaptasi arsitektur dari belahan dunia lain. Dalam satu kawasan, kita bisa menemukan banyak bangunan dengan tipe yang berbeda-beda tanpa jelas mengerti apa maksudnya. Belum tiba-tiba sang pemilik rumah yang merubah fungsi tempat tinggalnya menjadi toko, atau dengan seenaknya mencoba mempercantik rumahnya dengan merenovasi bagian depan sehingga tiba-tiba berbeda sama sekali dengan bangunan disekitarnya. Saya suka tidak mengerti dengan jalan pikiran orang yang tinggal disatu kawasan (Menteng misalnya) yang membangun rumah yang berbeda dengan bangunan di kawasannya. Bukankah bangunan asli yang ada di Menteng itu sudah cantik dari sananya? Lagi-lagi kembali ke karakter yang tidak jelas.

Akan tetapi bagaimanapun juga, Jakarta seolah tetap memanggil-manggil saya untuk kembali.


Responses

  1. Saya setuju… bahwa Jogja punya kekhasan tersendiri… hampir dua tahun merantau di sana, masih menyisakan banyak kenangan indah tentang Jogja… dan selalu membuat saya ingin kembali dan kembali dan kembali…

  2. kota memang perlu banget mempertahankan ciri khasnya…

    jogja, ia… makanya KLA Project ciptain lagu ttg kota ini…

    btw, perjalanan ke parisnya bener2 bikin ngiler. perjalanan pribadi apa dinas?

    oia, salam kenal ^_^

  3. wah ternyata kita sama no. Gue tu heran, knp gue lebih suka Bangkok ketimbang KL, Putra Jaya, Melaka? padahal waktu di Bangkok gue sendirian, tersesat dan kelaparan pula. Oooo ternyata gue menemukan jawabannya disini.

    Malang juga asik lho no, begitu menginjakkan kaki di kota ini, entah knp gue lgs suka, mgkn krn angkotnya gampang, hehe. Kyknya kota2 di jawa tengah n timur menyenangkan, gak cuma jogja aja. Kalo Denpasar, dan kota2 lain di Bali gue gak suka, soalnya dah terkontaminasi ama bule2, jadi gak hommy lagi (mnrt gue lho yaa…)🙂

  4. wah mas ono welcome back to indo ya mas ^_^ D: lam kenal aja deh

    bikin ngiler aja neh posting ttg eropanya… jd pengen ikutan jejaknya mas ono

    hhmmm BTW kapan neh mo ke swedianya aku jd pengen denger info ttg mesin yg bisa kembaliin uang kita kalo kita masukin botol2 bekas itu..

    kapan siaran senandung cinta lagi ???


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: