Posted by: katakataono | October 1, 2007

Nasib Menjadi Imigran (Sebuah Catatan Perjalanan Bagian I)

Perjalanan keberuntungan. Begitu saya menyebut catatan perjalanan kali ini ke sebuah kota yang di klaim termasuk paling cantik didunia. Tidak mengeluarkan biaya tiket dan penginapan, kecuali makan, dan beruntung saya bisa banyak memahami hal baru di kota ini.

Saya tiba di Charles de Gaulle Airport terminal 2 kira-kira jam 10 pagi. Untuk selanjutnya meneruskan perjalanan ke Paris City Centre dengan menggunakan kereta. Sambutan Paris terhadap saya meninggalkan kenangan yang terus terang kurang manis. Dalam perjalanan di kereta tiba-tiba saya disodorkan sebuah kertas oleh seseorang perempuan cantik berjilbab. Tanpa malu-malu di kertas itu, yang dia tuliskan dalam dua bahasa, Inggris dan Perancis dia menyatakan kalau dia membutuhkan uang karena kehidupannya yang tidak beruntung. Homeless, dengan 2 orang anak dan mungkin juga ditinggalkan oleh suaminya, dia mencoba memohon belas kasihan dari orang-orang yang baru saja tiba di Paris hari itu.

Sebuah gambaran yang tidak pernah sedikitpun terlintas dalam pikiran saya, kalau kota se-indah Paris tidak mampu memberikan penghidupan bagi rakyatnya. Saya termenung dan memori saya kembali ke kota Jakarta, dimana diangkutan umum saya sering disodorkan sebuah amplop, untuk diisi sejumlah uang dari mereka-mereka yang kehidupannya kurang beruntung. Untuk kasus Jakarta, saya cukup paham karena kita berasal dari negara yang sedang berkembang, yang menurut data dari World Bank, ditahun 2006 poverty date Indonesia berada di angka 17.8%, meningkat dari tahun 2005 yang “cuma” 16.0%. Tapi di Paris? tidak pernah saya bayangkan fenomena ini terjadi.

Mungkin saya memang terlalu naif dengan keindahan dan kemegahan sebuah konsep “barat” yang segalanya lebih baik dari sebut saja Indonesia. Termasuk didalamnya untuk orang, negara, tingkat kehidupan dan kotanya. Tapi kenyataan kecil yang saya lihat membuat saya berpikir, kenapa disebuah negara yang boleh dibilang maju seperti ini, saya masih bisa menemukan hal ini.

Ternyata fenomena meminta tidak berhenti di kereta saja. Setibanya saya di pusat kota, untuk menitipkan koper sebelum saya bisa check in di hotel, saya langsung menuju ke landmark kota Paris yang sangat melegenda, Menara Eiffel.

Hari itu untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup, yang mungkin juga ini yang terakhir saya berkesempatan melihat lebih dekat, bahkan menikmati menara yang namanya dikenal banyak orang dari seluruh dunia. Saya bahkan berkesempatan untuk menikmati kota Paris dari bagian tengah menara. Sayangnya awan tebal disertai hujan dan angin yang cukup kencang mengurangi indahnya pandangan disekitar menara. Walaupun demikian, saya merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari jutaan orang yang pernah menaikinya.

Kembali kecerita awal, setelah puas menikmati Paris dari menara, saya kembali menginjakkan kaki ke bumi untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Akan tetapi fenomena meminta uang dari para turis kembali terjadi di sekitar menara. Kali ini banyak perempuan (yang lagi-lagi berkerudung) mencoba mendatangi saya, kawan saya yang kebetulan berkulit putih dan sebagian besar pelancong yang datang, mereka berkata:

“Speak English??”

Kawan saya mengingatkan saya, mereka lagi-lagi adalah peminta uang dari kita para pelancong. Kemudian terjadi diskusi kecil tentang kenapa hal tersebut bisa terjadi. Dari sudut pandang saya yang orang awam, kota seindah dan sesempurna ini tidak seharusnya punya hal ini. Tapi itulah realitanya. Kenapa bisa terjadi?

Saya lupa bahwa orang Eropa bebas melintas batas negara tanpa perlu menunjukkan identitas diri lagi seperti dahulu. Akibatnya, banyak orang terutama dari negara-negara Eropa yang terbelakang, mencoba peruntungan hidup yang lebih baik di kota yang mereka anggap tambang emas untuk mencari penghidupan. Simpul-simpul ekonomi seperti Paris terutama dan kota-kota besar lainnya di Eropa seperti gula yang diserbu oleh semut-semut lapar mencari hal yang manis. Negara-negara ex Uni Soviet atau balkan, Ex Yugoslavia termasuk negara yang penduduknya dalam tingkat ekonomi yang rendah kalau dibandingkan negara-negara di Eropa Barat.

Saya menjadi semakin sedih terutama karena mereka menggunakan identitas sebagai orang yang memeluk agama yang saya yakini. Hal ini tentu bisa saja menimbulkan persepsi kalau agama yang saya anut identik dengan kemiskinan dan meminta dari orang lain. Kawan perjalanan saya menyatakan, Inggris sebenarnya juga merupakan tujuan utama pencari keberuntungan. Akan tetapi, mengingat kebijakan mereka yang tidak menjadi bagian dari Uni Eropa dan perlu passport untuk masuk ke Inggris, posisi London menjadi lebih beruntung dibandingkan dengan Paris. Mungkin juga karena itulah saya jarang melihat fenomena itu terjadi di London.

Gara-gara diskusi kecil tentang kemiskinan di Paris ini saya sekarang menjadi tertarik untuk mempelajari konsep integrasi antara pendatang dan penduduk lokal disebuah kota. London, Paris, mungkin juga Amsterdam, Berlin adalah kota-kota yang punya pengalaman menghadapi hal ini. Saya membayangkan, apa jadinya Jakarta, diserbu oleh orang-orang dari negara Indo China atau Philippines atau East Timor yang mencoba mengambil bagian dari kue besar yang dibagi-bagi di Jakarta. Akankah potensi konflik terjadi? Seru juga kalau ada yang membiayai saya sekolah lagi nih.


Responses

  1. Jakarta juga punya pengalaman sama menjelang lebaran. Di Belanda ada semacam “enclave” untuk pendatang, dan tidak banyak pengemis berkeliaran. San Francisco juga termasuk metropolitan plg ramai dg pengemis. Dlm kemajuan spt apapun, ada yg bisa bergerak sama cepat, ada yg tertinggal, ada yg bergabung dg tangan hampa, dan pengalaman spt di Eifel memberi ingatan utk selalu memperhatikan yg kurang😉
    doel

  2. “Seru juga kalau ada yang membiayai saya sekolah lagi nih.”

    Setuju… kasih kasih kabar ya kalo ada yang berkenan… saya juga mau… hehehehe

  3. Wah.. ono ke Paris.. ketemu Anggun nggak No…. hehehe..

  4. @anonymous : sori, skrg pengemisnya di Jkt udah rada berkurang, soalnya ada larangan memberikan uang kpd pengemis, malah bs kena denda.

    Trus kalo disini, penghasilan per hari pengemis tu bs lebih gede dr penghasilan per hari gue, hebat gak tuh… hehehe😀

    Iya ya no, malu sendiri ya kalo liat pengemis berkerudung, mencoreng agama sendiri.

  5. Hmmm..ternyata di tempat tercantik di dunia pun ada orang2 yang ngga beruntung ya.
    anyway, tulisannya bagus.Salam kenal : D.

  6. wah pengen sekolah lagi ya? saya juga mau tuh. bilang2x yah kalo dapet ;p

  7. dan kenapa dia berkerudung siiih..😦

    hiks.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: