Posted by: katakataono | June 17, 2007

Forgiveness

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

2 hari yang lalu, saya menyaksikan tayangan Oprah Winfrey. Seorang tokoh yang pernah saya tulis beberapa waktu yang lalu mengenai pengaruhnya terhadap kehidupan banyak orang di dunia. Termasuk diri saya sendiri. Saya lupa tepatnya apa judul talk shownya, akan tetapi saya mencoba mengambil nilai positif dari tayangan yang saya saksikan itu.

Oprah mencoba mempertemukan seorang pembunuh yang sudah berada didalam penjara, dengan keluarga korban yang dibunuh. Ilustrasinya adalah sebagai berikut: ada dua orang perempuan, yang pertama ayahnya dibunuh ketika dia berumur 17 tahun, dan perempuan kedua ibu kandungnya dibunuh oleh ayahnya sendiri ketika dia berusia 4 tahun.

Anda bisa bayangkan sendiri, kalau saja ada anggota keluarga inti anda dibunuh oleh seseorang, dan anda punya kesempatan untuk bertemu dengan pembunuhnya, kira-kira yang muncul dalam benak pikiran adalah:
– Apa yang ingin ditanyakan kepada pembunuh?
– Bisakah kita menahan luapan emosi yang meledak-ledak?
– Apa yang ingin anda katakan kepada pembunuh?
– Bagaimana suasana dan situasi pada saat kita pertama kali bertemu dengan pembunuhnya?

Semua tergambar jelas didalam tayangan tersebut. Seolah, empati saya saat menonton terbawa dalam gambaran real sebuah reality yang ditangkap oleh kamera dan tidak perlu mendramatisir suasana seperti yang terjadi dalam reality show di Indonesia agar terlihat menarik dan membawa kondisi psikologis penonton (maaf, ini opini pribadi).

2 orang perempuan ini punya satu tujuan untuk menemui sang pembunuh. “Bertanya,kenapa dia melakukan hal tersebut kepada orang yang mereka cintai?”. Untuk melakukan hal ini, mereka membutuhkan waktu kurang lebih persiapan 4 bulan sebelum hari pertemuan. Kepada mereka disediakan dua orang pendamping, seorang psikolog yang mendampingi mereka sebelum pertemuan, selama dan setelah pertemuan. Dibutuhkan kondisi psikologis yang luar biasa kuat agar mereka benar-benar siap menghadapi hari H. Bahkan, dalam tayangan, mereka juga dipertemukan dengan anggota keluarga mereka, supaya memperoleh dukungan secara moril dalam menghadapi hal ini.

4 bulan? seperti waktu yang cukup lama untuk sebuah persiapan menghadapi meeting yang mungkin hanya berlangsung 1 jam. Tapi efek dari pertemuan itu, mungkin bisa menjadi hari luar biasa yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup mereka.

Ketika hari H tiba, suasana tegang pasti dirasakan mereka. Bukan hanya keluarga korban, tapi bagi pelaku sendiri. Ketakutan akan apa yang mungkin terjadi dalam pertemuan itu dijelaskan oleh mereka, dan waktu seolah berjalan sangat lambat. Hal yang paling memberatkan adalah ketika sang keluarga korban berjalan memasuki ruangan pertemuan, dimana sang pembunuh sudah duduk dan menunggu disana. Kikuk, bingung, sedih, marah, benci, takut, kesan yang sangat terasa dan tertangkap oleh saya sebagai penonton.

Hingga pada akhirnya, percakapan dimulai dengan sebuah surat yang keluarga korban bacakan, berisi pertanyaan-pertanyaan tidak terjawab, mengenai terbunuhnya orang yang paling mereka cintai. Air mata sudah pasti tidak tertahankan untuk dibendung. Dan bisa anda bayangkan mendengar secara langsung pengakuan sang pembunuh mengenai, alasan mereka membunuh, bagaimana situasi pada saat hal itu terjadi, dan kata-kata terakhir yang diucapkan oleh korban kepada pembunuh.

Pada saat itu saya baru sadar, kalau ternyata didalam pengadilan seorang pembunuh tidak menceritakan alasan terjadinya pembunuhan, dan disarankan penasehat hukumnya untuk sesedikit mungkin mengeluarkan pernyataan, agar tidak memberatkan posisinya dimata hukum. Karena itulah seorang pembunuh tidak pernah bisa menjelaskan kepada keluarga korban tentang alasan mereka melakukan perbuatan keji tersebut.

Kembali ke Oprah, dua pembunuh diharuskan menjelaskan kepada keluarga korban tentang alasan mereka membunuh. Dan tentu saja, untuk mereka sangat berat bisa menjelaskan alasan tersebut, karena terlihat dari psikologis mereka kalau ada penyelasalan ketika melakukan hal itu. Kedua pembunuh meneteskan air mata dan menangis sesenggukan ketika harus menjelaskan kepada keluarga korban mengapa mereka membunuh.

Saya tidak melihat memang, ada motivasi dari kedua pelaku untuk membunuh. Keduanya mengaku kejadian berlangsung sangat cepat, dan bahkan mereka merasa bahwa bukanlah diri mereka yang melakukan hal itu. Seperti ada kekuatan lain yang luar biasa dari luar, dan ketika mereka tersadar, korban sudah tidak mungkin tertolong lagi. Memang, yang ada hanya penyesalan.

Satu hal yang membuat saya terharu dan angkat topi kepada kedua perempuan dengan kasus yang berbeda ini, adalah mereka dengan ketegaran yang luar biasa, dihadapan sang pembunuh, memaafkan apa yang mereka lakukan, meskipun dalam kondisi yang buat saya luar biasa sulit untuk mengatakan itu. Mereka percaya, dengan memaafkan kehidupan mereka akan jauh lebih baik, tanpa harus dibayang-bayangi perasaan benci dan dendam yang bisa mereka bawa seumur hidup.


Responses

  1. Memaafkan saya pikir perkara mudah Mas Ono… tapi melupakan??? Entahlah….

  2. hey.. i’ve seen that episode mate. So touching, indeed.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: