Posted by: katakataono | April 17, 2007

Virginia Vs. Jatinangor

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Hampir seluruh media di Inggris sepanjang hari kemarin hingga pagi ini mengulas dan memberitakan tentang tewasnya 32 mahasiswa Virgina Tech University di Amerika Serikat. Kejadian tragis ini menurut kabar, dipicu atas kecembuaran dari si penembak yang mandapati kekasihnya bersama laki-laki lain. Persoalan yang memang buat sebagian orang dianggap sepele, namun punya dampak yang luar biasa besar, hingga masalah ini menjadi perhatian media internasional.

Kampus, sebagai lingkungan yang memiliki nilai strategis di masyarakat, memang kerap kali menjadi bagian dari sebuah kekerasan yang bisa menghilangkan nyawa seseorang. Bahkan, di saat, seorang mahasiswa yang mempunyai tujuan baik ingin mendapatkan ilmu, harus merasa terancam bahkan dengan tragisnya harus kehilangan nyawa.

Mendengar cerita seorang saksi berdasarkan ceritanya di radio BBC, bagaimana mereka berusaha memblokir kelasnya, dengan mengunci pintu dan meletakkan meja-meja agar penembak tidak bisa masuk kedalam kelas, dan bagaimana dia berpura-pura terkapar tidak bergerak agar terkesan telah mati ditembak. Sebuah gambaran suasana yang tidak terbayangkan bagaimana mencekamnya keadaan kampus saat itu.

Menyimak berita ini dari waktu ke waktu, bahkan pagi ini seluruh surat kabar di Inggris mengangkatnya sebagai headline, menimbulkan kesadaran, apakah kampus memang bukan tempat yang aman dari tindakan kejahatan? Satu opini bahkan mengemuka agar untuk dapat masuk lingkungan kampus, diperlukan metal detector seperti yang umum dilihat diseluruh penjuru Jakarta. Gambaran yang sangat jelas bahwa, Jakarta tidak aman?

Kembali ke Virginia, tentu saja kekerasan buat saya bukan hal yang bisa ditolerir. Saya jadi teringat akan sebuah kampus ternama di Indonesia, yang mencetak lulusan-lulusan yang akan berperan sebagai abdi masyarakat. Beberapa waktu yang lalu, Sekolah Tinggi ini pernah menjadi perhatian media nasional karena kasus tewasnya seorang pelajar (sebut saja istilahnya begitu) akibat dari sebuah ‘kekerasan struktural’ yang dianggap ‘legal’ terjadi di kampus tersebut. Dan belum lama ini, kasus yang sama terjadi lagi di tempat yang sama, disaat semua pihak berasumsi tidak akan terjadi lagi nyawa melayang di lingkungan akademis karena sebuah tindakan kekerasan.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Lantas apa yang membedakan Virginia dan Jatinangor? Bagi saya, dalam beberapa hal, tindakan yang dilakukan di Jatinangor jauh lebih berbahaya dibandingkan yang terjadi di Virginia meskipun jumlah korban yang jatuh lebih banyak. Tidak ada data statistik yang menyebutkan berapa korban yang sudah jatuh sejak awal berdirinya STPDN, tapi saya berasumsi bahwa bukan hanya 2 nyawa yang melayang, seperti yang saya ketahui sekarang. Adalah media yang sudah “berjasa” membuka tragedi ini ke masyarakat. Tapi hal yang paling penting, bagaimana bisa sebuah kekerasan struktural dianggap legal dilakukan di sebuah lembaga akademis?

Dampak yang akan terjadi bisa saja berjangka panjang. Kekerasan yang terjadi mungkin setiap hari di Jatinangor, akan terinternalisasi dalam pikiran masing-masing pelajar, dan ‘bisa jadi’ akan diterapkan di tempat dimana dia bekerja nantinya. Arogansi, senioritas, dan budaya kekerasan akan terus terbawa bahkan dalam public service atau dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di masyarakat. Ada masalah yang menyinggung kepentingannya sebagai seorang pejabat pemerintahan daerah? kekerasan ‘mungkin’ jadi pilihan terbaik sesuai dengan pengalaman yang dimilikinya di tempat dia belajar.

Sekali lagi, dalam setiap opini, saya tidak mengeneralisir semua lulusan STPDN menjadi seseorang yang terbiasa dengan kekerasan, akan tetapi sebagai sebuah lembaga yang berfunsi mentransfer knowledge dan culture, buang jauh-jauh nilai kekerasan sebagai bagian dari sosialisme di kampus. Kalau ada tempat yang legal untuk beradu jotos di atas sebuah ring tinju, kenapa harus di kampus dan kehilangan nyawa? Bukankah seharusnya menjadi tempat yang paling aman, sejajar dengan tempat ibadah?


Responses

  1. Iya No… aku prihatin banget tuh… yang lebih parah… pelakunya orang Asia… dari Korea Selatan… jadi kayaknya jadi buruk deh citra orang asia di sana.
    Nah yang tidak kalah parahnya adalah salah satu korban adalah orang Indonesia. Namanya PARTAHI MAMORA HALOMAN LUMBANTAROAN (35 tahun) yang sedang studi S3 Teknik Sipil di sana.
    Turut berduka cita nih…

  2. turut berduka cita dan prihatin atas maraknya kekerasan di dunia pendidikan. semoga ini menjadi bahan renungan yg berarti buat kita. stop kekerasan di semua bidang kehidupan!

    *kampanye mode on*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: