Posted by: katakataono | April 2, 2007

Belajar dari seorang Alan Lewin

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Dia adalah Alan Lewin, seorang kawan baru, yang saya kenal dari sebuah program HOST, yang menjembatani para mahasiswa internasional untuk lebih bisa mengenal kebudayaan Inggris dari dekat dengan tinggal di salah satu keluarga British yang mau menerima kedatangan kami yang mendaftar. Saya berkesempatan untuk tinggal selama akhir pekan di rumahnya di Burcot Village, Oxfordshire, Inggris.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Dia adalah seorang “disable” harus bergantung dengan kursi roda, karena salah kakinya harus diamputasi karena sakit. Sebagai seorang yang disable, Alan Lewin adalah soerang yang sangat mandiri. Di usianya yang senja (jujur saya tidak bertanya berapa umurnya) namun dia masih sanggup melakukan hal apapun sediri tanpa bantuan orang lain. Dia tinggal di sebuah rumah yang di buat khusus untuk orang yang disable sendiri, melakukan aktivitas rutin seperti bangun pagi, memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, berkebun, berbelanja, bahkan bekerja sebagai seorang tutor bahasa di Oxford University, semuanya mampu dikerjakan olehnya sendiri. Dia memilih untuk melakukan hal tersebut, karena dia tidak ingin tergantung dengan orang lain, termasuk anak-anaknya. Ke-10 orang anaknya termasuk 22 orang cucu saat ini hidup tersebar di seluruh penjuru dunia.

Dia memilih untuk membiarkan anak-anaknya dengan kehidupannya masing-masing tanpa perlu takut memikirkan dia, karena menurutnya dia mampu hidup sendiri. Dan hal itu memang benar terbukti dari pengamatan saya. Tinggal di rumahnya selama akhir pekan, memberikan pelajaran yang sangat berharga buat saya. Nilai-nilai yang dia anut, antusiasmenya terhadap perbedaan yang ada didunia, dan minatnya untuk belajar tentang Islam, terkadang membuat saya malu akan diri saya. Saya mungkin bukan pendakwah yang memang punya kemampuan untuk menjelaskan Islam secara utuh, akan tetapi dia sangat bahagia memperhatikan bagaimana ritual orang Islam untuk menjalankan ibadah shalat. Bahkan, selama saya tinggal di rumahnya, dia acap kali mengingatkan kepada saya, apakah sudah waktunya saya menjalankan ibadah shalat. Dia tertarik untuk mengenal lebih jauh tentang ajaran-ajaran Islam, akan tetapi sayangnya, kemampuan saya untuk menjelaskan hal tersebut sangat lah terbatas.

Di sisi lain, dia adalah orang yang sangat bangga dengan daerahnya. Alan memiliki ingatan yang sangat kuat akan sejarah yang terjadi di daerahnya. Sebut saja, beberapa kali dia bercerita kalau raja-raja Inggris jaman dahulu, Edward ke berapa, atau Henry ke berapa pernah berkunjung ke Oxfordshire dan menikmati betul daerah ini. Terkadang tiba-tiba saja dia bercerita dalam perjalanan di mobil, kalau Henry III pernah datang dan berkunjung ke tempat ini, tahun 1800 sekian…..
Hal yang sangat saya kagumi, dia mampu mengingat tepat angka tahunnya. Atau dengan bangganya dia bercerita, kalau tembok belakang rumahnya, merupakan tembok yang dibuat tahun 1500an (kalau tidak salah) sebagai salah satu bagian kecil dari tembok pembatas wilayah yang dibangun pada tahun tersebut.

Dia juga yang membawa saya berkeliling ke kota-kota kecil diseputaran rumahnya. Dengan mobil yang juga didesign khusus untuk orang disable, perjalanan dengan dia begitu menyenangkan, karena seperti layaknya seorang tour guide, dia mampu menceritakan sejarah detail dari kota-kota yang kami kunjungi. Terkadang saya membayangkan, apakah saya mampu menceritakan sejarah kota Jakarta?

Sebelum saya berpisah dengannya, pada saat dia mengantarkan saya ke Oxford untuk kembali ke Birmingham, saya ungkapkan kepadanya bahwa sosoknya seolah menghadirkan kembali kakek saya yang telah tiada. Satu hal yang cukup lucu adalah, dia berkali-kali meminta maaf karena dia berperan seperti seorang ayah yang sering mengingatkan anaknya akan suatu hal. Seperti, mengingatkan saya untuk makan, mematikan lampu di malam hari, bahkan dalam perjalanan dia sampai memastikan dua kali kala saya sudah membawa serta tiket bis untuk kembali ke Birmingham. Saat dia sadar, dia segera meminta maaf karena anaknya sendiri sempat berkata kepadanya, “Dad, i’m over 30 now…… do i still like a child?”. Namun, buat saya, hal itu adalah bentuk kerinduan, meskipun dia selalu menekankan kepada anak-anaknya, bahwa dia mampu hidup mandiri.


Responses

  1. wah.. berasa menarik sekali pengalaman ini, mas! mas this inspires others to get to know others well🙂

  2. Waduh… kalo buat itu salah satu bentuk perhatian… jadi sangat merasa tidak terganggu… malah kadang membuat kangen kita dengan tanah air terobati.

  3. Hi, I am Chien Yi from Malaysia. Just want to let you know
    that Alan has passed away on last Saturday 5/3/11. I am so sorry to
    inform you. Chien Yi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: