Posted by: katakataono | November 18, 2006

Sebuah refleksi

Sudah 64 hari saya berada disini, dan ini baru tulisan ke-2 yg bisa saya hasilkan. Produktif? tentu saja tidak, akan tetapi, kadang ide untuk menulis keluar pada saat saya tidak berada di hadapan laptop tercinta, sehingga yang ada, pada saat saya memelototinya, sang ide sudah hilang entah kemana.

Bingung memang menceritakan apa yang terjadi pada diri saya, karena dalam perjalanan lebih dari 2 bulan sejak pertama kali saya menjejakkan kaki di negeri para raksasa ini (baca: United Kingdom) banyak hal baru dengan keajaiban-keajaiban yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Sebut saja pengalaman lebaran di negeri orang. Seumur hidup saya, tidak pernah merasakan dan mendengar, suara takbir mengumandangkan nama Allah SWT itu seindah suara alam. Keindahan suara itu terngiang dalam telinga saya hingga saat saya menorehkan tulisan ini. Masih teringat jelas, bagaimana kami warga masyarakat Indonesia berkumpul di sebuah rumah untuk bersama-sama mengumandangkan takbir di malam sebelum idul fitri datang, dan rasanya sulit untuk mata ini menahan butiran-butiran air keluar dari kelopaknya. Sungguh luar biasa! Keindahan itu hanya bisa dikalahkan oleh suara tangisan bayi yang baru saja hadir kedunia.

Pengalaman spiritual inilah yang terkadang menggelitik pikiran saya, apakah benar, saat kita menjadi minoritas ikatan kita akan menjadi semakin erat, dan emosionalitas diri serta perasaan ke-aku-an menjadi luntur dalam kesendirian. Bandingkan pada saat saya hidup dalam kebersamaan sebagai kelompok yang mayoritas. Terkadang saya terlena dalam keramaian, dan tidak menghargai arti kesendirian.

Hidup sendiri, jauh dari keluarga (saya beruntung hidup di kota dengan ikatan emosional masyarakat Indonesia yang kental), mensyaratkan kita untuk berjuang untuk mencari ikatan-ikatan emosional yang baru. Disini saya baru mengerti, mengapa manusia butuh kasih sayang, butuh cinta, butuh kebersamaan. Karena, pada dasarnya, manusia tidak mampu hidup sendiri. Bayangkanlah diri kita menjadi seorang tarzan, atau seorang pelarian tentara jepang, yang bertahan dalam gua, masih percaya perang belum selesai, dan menunggu petunjuk bahwa perjuangan sudah selesai. Bagaimana rasanya terasing dalam sebuah ruang, tanpa bisa berkomunikasi. Saya masih beruntung, bahwa teknologi informasi saat ini, memungkinkan kita, dalam kesendirian, dapat berkomunikasi dengan mudah, tanpa ada hambatan maupun halangan.

Andai saja, saya datang kesini, 20 tahun yang lalu, dimana hanya suara yang bisa diandalkan sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan rindu, dengan orang yang tercinta di tanah air. Bagaimana mereka bisa bertahan untuk merefleksikan kecintaannya pada keluarga?


Responses

  1. Banyak hikmahnya tinggal jauh dan jadi minoritas… membuat kita jadi bisa lebih lapang dada dan toleran… mungkin juga jadi raksasa hehehe… nikmati saja karena pengalaman seperti ini belum tentu terulang satu dua kali… kalau lima kali mungkin😀 Amin, amin, amin…
    doel

  2. lebaran di aussie dulu basi bgt! mo cari masjid aja mesti pergi ke kota yg jaraknya 300 km! huh!

    tapi ga papa lah…. maklum juga siy! secara dulu ditempatin di pedalaman yg isolated bgt :p

  3. saya pikir kuncinya adalah bersyukur dan menikmati..hehe..gak semua orang pernah mengalami pengalaman ‘indah’nya berlebaran di negeri orang. lagian kan untuk sementara aja, insya Allah ;p


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: