Posted by: katakataono | July 18, 2006

Sekelumit Kisah Guncangan Kecil di Jakarta

Membaca dan mendengar berita tentang kejadian gempa dan tsunami yang mengorbankan banyak nyawa tentu saja membuat saya mengelus dada dan menarik nafas panjang. Belum lepas dari ingatan gempa besar di Jogja yang mencederai beberapa kawan, kini saya harus membaca lagi cerita yang sama seperti gempa Jogja.

Pada saat gempa terjadi, saya sedang menikmati hobby yang juga pekerjaan saya sebagai penyiar. Saya sedang menggelar kirim salam sore hari itu, dan sedang menyapa pendengar di 3 kota. Saat saya sedang berbicara dan memperdengarkan tanda waktu sholat ashar, tiba-tiba kepala menjadi pusing. Saya melihat tirai di ruang studio bergerak-gerak meskipun intensitas dan kekuatan geraknya tidak kuat, saya butuh waktu untuk meyakinkan bahwa apa yang saya rasakan ini adalah sebuah getaran gempa bumi.

Dalam keadaan mike menyala, dan didengar oleh pendengar saya, saya katakan: “ini entah perasaan saya aja yang aneh, atau anda merasakannya juga. Apakah anda merasakan gempa juga seperti yang saya rasakan sekarang?”

Pada saat yang bersamaan, Ian operator siaran yang bertugas sore ini lari meninggalkan ruangannya di depan saya. Sambil terus melanjutkan siaran dan berbicara membacakan salam yang masuk via sms, saya berpikir; “kok Ian gak balik-balik? Apakah semua orang di lantai 8 ini sudah turun menyelamatkan diri?”

Meskipun intensitas getaran kecil, tapi entah saya mengalami perasaan takut yang cukup kuat, sehingga ingin rasanya saya menyudahi siaran saya sore hari itu, dan pergi meninggalkan ruang siaran. Baru hari itu saya merasakan ruang siaran begitu dingin, mencekam dan menakutkan. Dan sesaat setelah saya merasakan gempa itu, tidak ada satupun orang yang melintas di ruangan operator.

Begitu perasaan itu makin meningkat, saya segera mengklik-kan sebuah lagu, yang saya ingat sekali, judulnya Cinta Terakhir, sebuah lagu baru dari Ari Lasso, dan bergegas saya keluar ruang siaran.

Ternyata, pikiran saya salah, meskipun ada sedikit kepanikan di kantor, namun orang-orang masih berada di kantor dan tidak meninggalkan saya. Dan 5 menit kemudian, pertanyaan itu terjawab, benar terjadi gempa, dan mungkin radio saya adalah radio pertama yang mendapatkan keterangan resmi dari BMG soal gempa yang terjadi sore itu.

Saya jadi berpikir, getaran yang saya rasakan memang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang terjadi di Jogjakarta.Tapi hal itu sudah cukup untuk membuat saya panik. Bagaimana bila gempa dengan kekuatan besar itu benar-benar terjadi di Jakarta? Wallahualam.


Responses

  1. wah jangan sampe dah! sudah tiga kali ya kita mengalami gempa besar dalam waktu yang sangat dekat. harusnya ada kampanye/sosialisasi menghadapi bencana. radio salah satu sarana ampuh untuk soundingnya, ya mas ono?

  2. Mas, Kita semua berharap,jangan pernah ada bencana lagi..

    Sekecil apapun, membayangkan bumi bergoyang, tentu sangat menegangkan.

    Dan semoga radio mempertimbangkan menjadi media untuk mewartakan informasi antisipasi.

  3. yang diperlukan adalah bagaimana manusia dapat bersikap arif terhadap datangnya bencana…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: