Posted by: katakataono | February 19, 2006

Ubud dan Buah Maja

Perjalanan ke Ubud, meninggalkan kenangan dan pengetahuan. Pada saat sahabatku Dian bekerja dan kami dateng ke tempatnya bekerja di Komaneka, saya dan oknum MAH sempat diberikan kesempatan untuk melihat-lihat bungalow2 keren di Komaneka. Di tata dengan sangat indah, sebuah resort yang sangat pas untuk pasangan yang ingin berbulan madu. Bagus bgt!

Yang paling menarik adalah, disalah satu bungalow, ada pohon dengan buah yang warnanya sangat menarik. Hijau cerah seperti layaknya sebuah apel, namun dengan ukuran yang sangat besar.
Image hosting by Photobucket
Image hosting by Photobucket
Image hosting by Photobucket
“Buah apa ini Pak?” gue bertanya.
“Ooohh, ini buah Maja, pahit rasanya”
“Lho, buah ini beneran ada toh? saya kira hanya ada di cerita-cerita dongeng”
“Iya, Pak Koman spesial membawanya kesini untuk ditanam di resort…..”

Sepengetahuan saya, buah maja ditemukan pada saat Raden Wijaya diijinkan membuka hutan Tarik. Dengan bantuan sisa-sisa tentaranya dan pasukan Madura, dibersihkannyalah hutan itu sehingga layak ditempati. Sewaktu sedang bekerja, salah seorang tentaranya merasa haus. Lalu dimakannyalah buah maja. Ternyata rasanya pahit. Sejak saat itulah tempat tersebut dinamai Majapahit.

Sekedar mengingatkan soal kerajaan yang katanya terbesar di Indonesia saat itu, Majapahit adalah suatu kerajaan yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M dan berpusat di pulau Jawa bagian timur. Kerajaan ini pernah menguasai sebagian besar pulau Jawa, Madura, Bali, dan banyak wilayah lain di Nusantara.

Penguasa Majapahit paling utama ialah Hayam Wuruk, yang memerintah dari tahun 1350 hingga 1389.

Majapahit adalah yang terakhir dan sekaligus yang terbesar di antara kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara. Didahului oleh kerajaan Sriwijaya, yang beribukotakan Palembang di pulau Sumatra.

Pendiri Majapahit, Kertarajasa, anak menantu penguasa Singhasari, juga berpangkalan di Jawa. Sesudah Singhasari mengusir Srivijaya dari Jawa secara keseluruhan pada tahun 1290, kekuasaan Singhasari yang naik menjadi perhatian Kubilai Khan di China dan dia mengirim duta yang menuntut upeti.

Kertanagara, pengasa kerajaan Singhasari, menolak untuk membayar upeti dan Khan memberangkatkan ekspedisi menghukum yang tiba di pantai Jawa tahun 1293. Ketika itu, seorang pemberontak dari Kediri, Jayakatwang, sudah membunuh Kertanagara. Pendiri Majapahit bersekutu dengan orang Mongolia melawan Jayakatwang dan, satu kali Singhasari kerajaan binasa, membalik dan memaksa sekutu Mongolnya untuk menarik kembali secara kalang-kabut.

Gajah Mada, seorang patih dan bupati Majapahit dari 1331 ke 1364, memperluas kekuasaan kekaisaran ke pulau sekitarnya. Beberapa tahun sesudah kematian Gajah Mada, angkatan laut Majapahit menduduki Palembang, menaklukkan daerah terakhir kerajaan Sriwijaya.

Walaupun penguasa Majapahit melebarkan kekuasaan mereka di tanah seberang di seluruh Nusantara dan membinasakan kerajaan-kerajaan tetangga, fokus mereka kelihatannya hanya untuk menguasai dan memonopoli perdagangan komersial antar pulau.

Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama mulai memasuki Nusantara. Sesudah mencapai puncaknya pada abad ke-14, tenaga Majapahit berangsur-angsur melemah dan perang suksesi yang mulai dari tahun 1401 dan berlangsung selama empat tahun melemahkan Majapahit. Setelah ini Majapahit ternyata tak dapat menguasai Nusantara lagi. Sebuah kerajaan baru yang berdasarkan agama Islam, yaitu Kesultanan Malaka mulai muncul dan menghancurkan hegemoni Majapahit di Nusantara.

Kehancuran Majapahit diperkirakan terjadi pada sekitar tahun 1500-an meskipun di Jawa ada sebuah khronogram atau candrasengkala yang berbunyi seperti ini: sirna hilang kretaning bumi. Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebaga 0041 = 1400 Saka => 1478 Masehi. Arti daripada sengkala ini adalah “sirna hilanglah kemakmuran bumi (Majapahit)”.

Raja yang pernah memerintah Majapahit:

Kertarajasa Jayawardhana 1294 – 1309
Jayanagara 1309 – 1328
Tribhuwana Wijayattungga Dewi 1328 – 1350
Rajasanagara (Hayam Wuruk) 1350 – 1389
Wikramawardhana 1389 – 1429
Suhita 1429 – 1447
Wijayaparakramawardhana 1447 – 1451
Rajasawardhana 1451 – 1453
Girindawardhana 1456 – 1466
Singhawikramawardhana 1466 – 1478

Diambil dari sebuah sumber


Responses

  1. Mas Ono,cerita Majapahit..hehehe..

    skr jd terbayang bagaimana dulu di suruh ngapalin nama raja raja, belon benar belon boleh duduk..huhuhu

  2. Jadi ingat pelajaran sejarah, dapat 10😛 Asyik juga bisa baca yang seperti ini lagi.
    doel

  3. Great story, since I really like history of Java….Jarang2 ketemu blog yg bahas begitu🙂

  4. Menarik untuk dibaca, Bedah Telisik Spiritual wasiat leluhur nusantara : MENYIBAK TABIR MISTERI NUSANTARA di JALAN SETAPAK MENUJU NUSANTARA JAYA.

  5. kok aneh? maja kok pahit sih? kalo udah mateng si buah maja itu ya manis

  6. Sepertinya ada nama buah yang sama “maja” yang ini memang pahit, di kawasan Cikarang masih bisa dijumpai. Yang manis rasanya agak jarang, atau mungkin ada nama lainnya, ya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: