Posted by: katakataono | January 24, 2006

Kemacetan Jakarta?Udah biasa bukan?

Banyak orang yang maklum kalau menjalani hari-hari di Jakarta dengan kemacetan. Santapan kemacetan di Jakarta sudah mendarah daging, hingga kalau kita menghadapi jalan yang lancar, bukan malah senang, justru yang keluar dimulut adalah “kok tumben ya lancar?”. Nah, biasanya setelah itu, buru-buru segera meralat kata-kata yang keluar, karena takut malah menghadapi kemacetan didepannya. Seringkali momoknya adalah “jangan ngomong gitu, ntar malah macet”.

Kemacetan juga telah melahirkan kata-kata baru yang lebih sering dipakai oleh orang-orang yang menyampaikan laporan kemacetan di radio.

Idiom seperti :
Pamer Paha = Padat Merayap tanPa Harapan
Pamer Susu = Padat Merayap Susul Susulan
Pamer Dada = Padat Merayap tersenDat-senDat

jamak dipakai oleh orang Jakarta untuk menggambarkan betapa kronisnya keadaan jalan. Sarana transportasi di bangun, Koridor I, II dan III katanya malah tambah memperparah kondisi jalan. Jalan yang biasanya sudah macet, dikurangi lagi lajurnya demi memberikan jalan untuk Trans Jakarta Busway. Tak apalah, mungkin memang niatnya pemda baik.

Yang terjadi di Jakarta Jumat 20 Januari kemarin, adalah kejadian yang luar biasa. Mungkin foto ini bisa menjelaskan kenapa kejadiannya disebut luar biasa.
Image hosting by Photobucket
Image hosting by Photobucket
Image hosting by Photobucket
Image hosting by Photobucket
Image hosting by Photobucket

Mungkin gambar tersebut akan menjadi kecelakaan yang biasa kalau terjadinya bukan di tengah kota Jakarta. Terjadinya memang dini hari, sekitar jam 3.00, tapi sampai pagi hari, potongan-potongan besi sebesar itu tidak segera di evakuasi. Alhasil apa yang terjadi? Jakarta didera kemacetan yang sangat akut. Orang-orang yang berangkat kerja pagi hari dari arah timur Jakarta harus memeras otak agar mencari jalur-jalur alternatif yang bisa mempercepat mereka sampai di kantor.

Imbas kemacetan ini memang luar biasa, dibalik foto-foto ini, berbuntut sampai tol Jagorawi, tol Cikampek, tol dalam kota yang kearah Tanjung Priok, jalan Kalimalang, dan tentu saja masih banyak jalan lainnya. Lokasi tempat kejadian ini memang berada di sumbu rotasi perjalanan orang dari arah timur Jakarta.

Moment ini tentu saja harus juga dimanfaatkan untuk mengabadikan diri di jalan yang memang tertutup oleh limpahan potongan besi yang menutup seluruh jalan di depan kantor jumat pagi itu. *Narsis tetep mode on* Karena, kejadian ini belum tentu terjadi 10 tahun sekali didepan mata.
Image hosting by Photobucket


Responses

  1. Udah pernah liat film pendek karya Ekki? jdulunya “MACET”. ya itu ttg kemacetan jakarta yg merayap peringkatnya menjadi nomor satu di asia atau dunia yah? lali aku.

    filmnya dapet penghargaan di German dan Thailand loh..

    salam kenal

  2. Wah bener banget, kebayang saya dulu masih sabar nagdepin macet di jakarta🙂 wong pas waktu mudik dikasih macet dikit aja udah uring2an..

    Sok atuh kapan mampir kesini, kerja disnii aja secara kemacetan blom separah Jakarta🙂

  3. Mas Ono,

    Wah…macet sih macet, tapi mejeng jalan terus ya…
    Setahun yang lalu, kemacetan itu menjadi sarapan pagi sore bagiku….sekarang “TIDAK LAGI”, setiap hari mendengar kicau burung dengan jalan jalan yang bebas hambatan…so..berminat ngungsi mas ?

  4. asyiik aku tidak ada macet, tapi tidak enak kalau telat masuk kerja tidak bisa alasan macet*sengaja*) hahaha

    wah semakin takut deh mau pulang, dengar macetnya aja udah sereemmm!

    salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: