Posted by: katakataono | September 14, 2005

Rp. 113 juta

Inilah pertama kalinya gue mengambil uang cash dari sebuah bank dengan nilai > 10 juta. Kalau boleh sedikit cerita, ini sebenarnya adalah uang dari forum BUMN G.11, sebuah perkumpulan asuransi BUMN, yang membentuk suatu wadah. Nah, blum lama ini mereka mengadakan event golf gathering antar anggotanya. Harusnya, kegiatan gathering ini dibiayai dari rekeningnya forum. Cuman, karena pergantian pengurus, dan belum dilaporkan ke bank, maka pencairan dengan cek yang pertama di tolak sama BRI. Alhasil, kegiatan gathering itu ditalangin dulu sama kantor gue.

Proses balik namanya sendiri ribet banget. Bikin surat penyerahan kepengurusan, harus di catat di notaris, minta foto kopi ktp pengurus lama, bikin buku cek baru, pokoknya selama 2 bulan ini sibuk membantu ngurusin balik namanya rekening itu, bolak-balik wira-wiri BRI, Taspen, Askes yang notabene tempatnya jauh-jauh. Nah, setelah semua persyaratan beres, baru uang bisa dicairkan.

Selasa kemarin, syarat terakhir yakni cek di ttd dua pengurus dan foro kopi pengurus lama baru dilengkapi sama Pak Suhardi salah seorang Direktur Askes. Alhasil, inilah hari yang ditunggu-tunggu, membawa cek itu ke BRI untuk mencairkan uang itu.

Membawa uang sejumlah itu bukan perkara yang mudah. Sering kali kita mendengar, kalo terjadi perampokan di jalan saat baru keluar dari bank, diikuti dari belakang, lalu dijalan di todong, di tembak, di rampok bahkan di bunuh. Uang yang di rampok menurut koran juga bervariasi, ada yang baru ngambil untuk bayar gaji, untuk keperluan kantor, macem-macemlah. Mungkin itulah alasannya kenapa orang lebih suka transfer. Mudah, cepat dan AMAN. Alasan ke-3 mungkin jadi faktor utama.

Ketika tahu tugas hari ini adalah mengambil uang sebanyak itu, maka hari ini jadi hari yang paling menegangkan buat gue di tahun ini. Berkaca dari pengalaman Mbak Firta kasir kantor, dia kalo ambil duit di bank, maka dia selalu bawa pak Jhon. Pak Jhon ini adalah orang ambon yang berperawakan seram, berbadan besar, mirip centeng / preman, tapi sebenarnya baik hati. Dia ini dulunya satpam kantor, tapi skrg merangkap recepsionis. Firta dan Pak Jhon sudah sering kali berurusan dengan pengambilan uang tunai ratusan juta dari bank, hanya saja yang jadi masalah jarak yang mereka tempuh sangat dekat. Sama-sama daerah Pancoran. Jadi hanya butuh waktu kira-kira 10 menit dari bank ke kantor. Yang jadi masalah utama hari ini adalah, letak bank yang sangat jauh dari kantor, yakni di Atrium Segitiga Senen.

Saya dan kita semua tahu, Senen bukan daerah yang punya reputasi aman di Jakarta. Ada yang bilang Senen termasuk Bronxnya Jakarta. Jadi wajar saja, kalo hari ini punya arti yang luar biasa buat gue. Jam 9 pagi kita berangkat dari kantor di pancoran, dengan mobil escudo yang dikendarai oleh pak Hery, menuju cempaka putih untuk mengambil cek di kantor pusat Askes. Setelah cek ada ditangan, kami meluncur ke kawasan Atrium Segitiga Senen. Perjalanan dari pancoran menuju Senen via cempaka putih ini masih diwarnai dengan candaan antara pak Hery, Pak Jhon dan gue sendiri. Maklum, selain mengurangi ketegangan, bebannya sendiri belum ada.

Di perjalanan Pak jhon cerita, kalo sebenernya untuk dia mengambil uang itu merupakan beban juga. Secara, banyak cerita soal bagaimana keselamatan orang yang mengambil uang tunai dari bank. Cuman dia bilang “gue percaya sama Yang Di Atas Aja”. dia melanjutkan “kaya kemarin, gue ngambil 800 juta buat uang pakaian, biar deket juga gue deg-degan tuh, untungnya selama ini gak pernah ada apa-apa”. Kan deket Pak, sama-sama di Pancoran, ini kan di Senen?

Akhirnya kami sampai juga di kawasan Atrium Segitiga Senen. Kalo boleh diceritakan, BRI di kawasan itu cukup rawan. Letaknya di puteran kawasan, tempat parkirnya tidak memadai, terlihat kumuh, kotor, dan kesan yang ditangkap secara kasat mata kurang aman. Meskipun, didepan ada satu orang polisi dan satpam yang menjaga.

Ditemani Pak Jhon yang bawa tas, kami masuk ke BRI dengan tujuan pertama adalah Mas Joe, yang selama ini membantu mengurus balik nama rekening, untuk menyerahkan foto kopi KTP pengurus lama dan berita acara serah terima pengurus yang sudah dilegalisir oleh notaris. Setelah selesai, mengaktifkan buku cek yang dipergunakan, lalu ke teller untuk mencairkannya. Proses di teller sendiri tidak sebentar, gw disuruh untuk kembali ke CS untuk cek saldo. Setelah dianggap mencukupi, cek diuji dulu ke absahannya dengan menghubungi orang-orang yang berwenang mengeluarkan cek, apakah benar uangnya akan di ambil sejumlah sekian. Karena proses pengecekan lama, maka gue dipersilakan kembali duduk untuk menunggu.

Menunggu di bank memang menyebalkan. Apalagi kita tahu kalau bahaya didepan mata itu luar biasa dekat. Bayangin, Rp.113 juta sekian yang akan diambil bukan jumlah yang kecil. Saat itu seperti seolah-olah semua orang yang ada di sana memperhatikan kami. Tegang sekali, bahkan saat disuruh tanda tangan gue gemetar luar biasa. Setelah verifikasi data lengkap, uang mulai dihitung oleh teller. Itupun prosesnya tidak cepat. Sempat ada beberapa orang lain yang hilir mudik berurusan dengan teller yang sama, untuk sama2 ambil uang, nyetor tabungan, dll. Akhirnya urang selesai di hitung. Gue lupa persisnya berapa tapi kira-kira Rp.113 juta 900 ribuan.

Begitu uang selesai dihitung, langsung dengan cepat gue panggil pak Jhon, lalu buru2 memasukkan lembaran2 merah menarik itu kedalam tas hitam, setelah semuanya tuntas, kami segera meninggalkan teller dan berjalan cepat menuju mobil. Ketegangan tentunya blum berhenti, begitu masuk mobil dan meninggalkan kawasan Senen, kami semua terdiam di mobil, menebar pandangan ke sekeliling dengan curiga, dan gue tak henti-hentinya berdoa, sambil meng-sms beberapa orang bilang kalo gue sudah meninggalkan BRI untuk kembali ke kantor, dengan jumlah uang sekian, tak lupa mohon doa agar kami selamat. I can tell you, kami semua tegang, hingga gak mampu ngomong apa-apa lagi.

Karena Bu Dewi boss gue nitip untuk menukar dollar, kami sempet berhenti dulu di VIP Menteng untuk menukar Rupiah milik BU De. Lagi2 berurusan dengan uang. Makin deg-degan lah gue, hanya saja, begitu masuk ke VIP ternyata antriannya luar biasa panjang, oleh karena itu, gue memutuskan untuk meninggalkan saja VIP dan buru-buru pulang ke Pancoran.

Untungnya, perjalanan ke Pancoran siang itu lancar. Pak Hery sempat nyeletuk “gimana kalo kita makan siang dulu??” . Wah, gue gak setuju tuh, makin lama kita sampe kantor, makin tambah ketegangan memuncak di diri gue. Dengan sangat menyesal gue tidak mengabulkan permohonan itu, meskipun gue tahu itu becanda aja sih. Sampai di lampu merah patung Pancoran gue masih blum tenang, namun begitu kita belok untuk potong jalur di Siemens, gue sudah bisa tersenyum. Jam 11an kami akhirnya tiba di kantor pusat di pancoran dengan menarik nafas lega.

Senyum cerah mengembang di muka gue saat gue masuk ke ruang humas dengan uang sebanyak itu tersimpan dalam tas hitam. Sebelum uang itu gue kembalikan ke kasir, tak ada salahnya untuk berfoto sejenak dengan lembaran-lembaran menawan itu. Kapan lagi gue bisa pegang uang sejumlah itu kalo bukan karena forum BUMN G.11 ini. Rp 113 juta?? ngebayangin punya sebanyak itu aja gak pernah, apalagi pegang??tapi sekarang itu semua didepan mata.

Fiuh, begitu foto selese, buru-buru uang dikembalikan ke kasir, dan sisa ketegangan pagi ini masih terus terasa sampe sore hari. Abis, taruhannya nyawa sih?

Rp.113 juta??wah wah….

(fotonya menyusul ya, abis masih disimpen di komputer pak Duki di lantai 4)


Responses

  1. Bagi-bagi atau kirim komputer ke tempatku di ASRIYATNO D/A PT.SELAMAT SEMPURNA Tbk
    JL.LPPU CURUG NO:88 BITUNG KADU JAYA TANGERANG 15810 BANTEN[AMAL DIKIT BOS]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: