Posted by: katakataono | February 25, 2003

this is very nice story to read……….

SI TUKANG KAYU

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari

pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real

estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada

pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja,

ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi

keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia

ingin

beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan

penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah

seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada

tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah

untuk dirinya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi

pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa

terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak

sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia

mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan

bahan-bahan sekedarnya.

Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya

bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia

harus

mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak

begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah

yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah

pada si tukang kayu.

“Ini adalah rumahmu,” katanya, “hadiah dari kami.”

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan

menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa

ia

sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya

sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan

cara

yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di

sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil

karyanya

sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita.

Kadangkala,

banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan

cara

yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala

kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan,

pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kitatidak

memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan

kita

terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan

dan

menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah

yang

kita ciptakan sendiri.

Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan

menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu.

Renungkan

rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita

memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding

dan

atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan

sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya

sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya

hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas

untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan.

Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi.

Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan

yang

kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah

milik

Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun

akan

masuk dalam barisan kemenangan.

“Hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri”.

Bagikanlah renungan ini kepada sahabat dan

teman-teman

anda, niscaya kebajikan dan hikmat akan kembali

jua

kepada kebaikan yang Anda bagikan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: