Posted by: katakataono | July 18, 2009

Cerita Lain dari Bom Jakarta

Tadi siang seorang sahabat telepon, menceritakan tentang kondisi suaminya yang bekerja di hotel Ritz Carlton Jakarta selamat dari ledakan bom Jakarta kemarin pagi. Ditengah-tengah telepon, tiba-tiba dia terdiam dan menangis lalu berterima kasih karena secara tidak langsung saya telah memberikannya jalan untuk bisa bekerja lagi.

Dia seorang ibu beranak satu, bercerita meskipun sang suami selamat dari ledakan bom, tapi melihat masa depan pekerjaan suami tidak pasti akibat kejadian bom ini. Hotel kemungkinan ditutup untuk sementara, sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Saya tercenung mendengarnya, dia mungkin masih beruntung karena selain sang suami masih bekerja termasuk dia sendiri juga masih bekerja. Tapi bagaimana nasib ribuan orang lain yang bekerja di kedua hotel dan menjadi tumpuan harapan keluarganya untuk mencari nafkah? Bagaimana pula dengan nasib karyawan yang terluka dan kehilangan kemampuan untuk selamanya akibat ledakan?

Efek ledakan tidak berhenti di hilangnya nyawa dan lukanya korban. Tapi jauh lebih panjang dari itu, puluhan, ratusan bahkan ribuan orang yang datang setiap harinya dengan senyuman, bekerja dengan ikhlas ingin melihat anak-anak mereka tumbuh dan berkembang memperoleh pendidikan dan penghidupan yang layak, kini terpaksa menundukkan kepala dan melihat ketidakpastian dari kehidupan mereka kedepan?

Apakah anda memikirkan hal itu para perusak masa depan umat manusia? Dan kau para elit politik, penting sekali berdebat dan buat konferensi pers  tentang siapa yang salah dan bertanggung jawab.  Sebuah  tindakan yang  kekanak-kanakan yang hanya untuk menciptakan image positif soal dirinya. Bersatu donk untuk Indonesia!

Posted by: katakataono | July 12, 2009

The remarkable Senja dan Fajar Utama

keretaSudah cukup lama saya tidak menggunakan armada kereta api di negara sendiri. Belakangan, pesawat udara adalah moda transportasi utama yang saya pergunakan untuk memindahkan posisi ke kota dan propinsi lain ke luar Jakarta. Setelah selesai Pemilu Pilpres 8 Juli kemarin, saya meninggalkan Jakarta menuju Solo dan Jogjakarta untuk beristirahat sejenak *lagi?* dari rutinitas di kantor. Sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan untuk menikmati kedua kota tersebut walau dalam waktu yang terbatas.

Tapi bukan soal kedua kota itu yang ingin saya ceritakan disini, melainkan pilihan kelas kereta api yang dipesankan oleh sahabat saya untuk membawa saya ke Solo dan kembali ke Jakarta dari Jogjakarta. Biasanya, saya menggunakan kereta ke Surabaya menggunakan kelas Argo yang nyaman, dilengkapi dengan air conditioner dan kursi yang bisa dirubah posisinya agar nyaman untuk tidur. Saya ingat, pertama kali menggunakan kereta kelas bisnis pada saat LP MPS di Jogjakarta tahun 2001 yang lalu.

Ceritanya tentu berbeda ketika saya menggunakannya lagi 8 tahun kemudian. Ternyata pengalaman menggunakan Senja dan Fajar Utama memberikan saya kejutan yang tidak akan pernah saya lupakan. Lupakanlah banyaknya penjual yang keluar masuk disetiap stasiun yang saya singgahi untuk menawarkan beragam makanan dan oleh-oleh. Suasana yang mirip pasar dan suara tawar menawar penjual dan pembeli saya dengar sekitar jam 1 dini hari.

Ditambah lagi, saya juga mengabaikan tawaran untuk menyewa selimut karena saya pikir kondisi kereta tidak akan dingin dimalam hari. Ternyata? Premis yang saya pikirkan salah, mengingat angin malam yang kencang menerpa tubuh saya malam hari itu. Satu keputusan yang sukses membuat saya sulit tidur sepanjang malam karena kedinginan. Tentu saja ditambah dengan teriakan ramai para penjual yang masuk ke gerbong, plus posisi tempat duduk yang permanen membuat badan serba salah untuk duduk padahal mata ingin banget tidur.

Yang paling bikin saya terkejut-kejut adalah betapa kreatifnya orang yang beruaha mencari nafkah didalam kereta. Penjual makanan dari penganan sampai nasi lengkap dengan ayam dan sayuran tidaklah aneh buat saya. Jualan souvenir, stationary, dan peminta sumbangan juga bukan hal yang baru. Pembersih gerbong dengan modal sapu yang mencoba membersihkan lorong-lorong dan meminta sejumlah uang juga tidaklah terlalu menarik.

Hal yang paling menarik adalah pada saat kembali ke Jakarta dari Jogjakarta dengan kereta Fajar Utama ada 1 orang yang ke setiap bangku dan menyemprotkan pengharum ruangan berbentuk spray, lalu meminta uang atas jasanya itu. Satu cara baru yang sukses bikin saya geleng-geleng kepala
dan senyum-senyum sambil memandangi jendela dengan suasana pulau Jawa yang sangat indah terbentang sepanjang perjalanan kemarin.

Kira-kira beberapa tahun lagi ada inovasi apa baru ya dari para penjual didalam kereta?

Tapi jangan sedih, bahkan di kereta Belanda yang demikian bagus dan teratur saya sempat bertemu seseorang yang meminta uang pada penumpangnya.

Posted by: katakataono | May 23, 2009

Welkom in Nederland

Saya termasuk orang yang sering bermimpi bisa mendapatkan kesempatan dinas ke luar negeri. Butuh waktu hingga wakhirnya mimpi itu terwujud. Tepat tanggal 22 Mei 2009 saya mendarat di bandara Schiphol Amsterdam, untuk melakukan tugas selama kurang lebih 3 minggu kedepan.

Mendarat di Belanda tidak terus saya langsung berjalan-jalan seperti layaknya turis. Memang, ada kalanya saya sempatkan waktu untuk menikmati tempat yang saya kunjungi. Tugas pertama pada saat saya mendarat di sini adalah langsung menuju ke kota Hilversum untuk melakukan radio interview di Radio Nederland Wereldomroep tentang Studi di Belanda. Karena saya datang 2 jam sebelum interview dimulai, maka oleh mbak Feda saya diajak untuk melongok dapur redaksi radio tersebut. Sebagai insan radio, pengalaman ini sangat menyenangkan untuk bisa melihat langsung daur radio modern yang propaganda nya diakses oleh banyak radio tidak hanya di Indonesia tapi di dunia. Interview sendiri direlay oleh lebih dari 80 radio diseluruh Indonesia.

Sebelum meninggalkan Hilversum, saya bertanya ke Mbak Feda ada sebuah gedung cantik di dekat kawasan Media Park. Alhasil, kami mencoba meluangkan waktu untuk melihat sebentar. Ternyata, gedung yang bernama Beeld En Geluid tidak hanya cantik terlihat dari luar, tapi arsitek yang mencipkatannya memang luar biasa. Gedung ini adalah hasil karya arsitek Willem-Jan Neutelings dan Michiel Riedijk. Mereka memperhatikan setiap detil keindahan dari pembuatan sebuah bangunan, sebuah mahakarya yang luar biasa dari negara ini. Sebuah perpaduan dari fungsi, keindahan dan kreativitas. Gedung ini berfungsi sebagai pusat penyimpanan (arsip) dari acara-acara televisi dan radio di Belanda. Setiap orang yang akan masuk dan mengakses data akan dikenakan biaya tertentu, diberikan cincin untuk bisa masuk kedalam. Berhubung waktu yang saya punya terbatas, maka saya hanya bisa mengagumi keindahan karya ini di common area saja.

_MG_2534_MG_2540

_MG_2541_MG_2550

Coba perhatikan gambar yang terakhir, kaca-kaca yang melapisi gedung ini tidak rata, hal itu disebabkan karena masing-masing bidang kaca adalah sebuah relief dari cuplikan scene yang ada di tayangan televisi yang arsipnya tersimpan disini.

Setelah puas berkeliling didalam, saya tinggalkan Hilversum menuju sebuah kota pertanian di tenggara Belanda yang bernama Wageningen.

*Foto: koleksi pribadi_MG_2556

Older Posts »

Categories